ACEH BUKAN BEBAN REPUBLIK
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
- visibility 166
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
OPINI
Oleh: Syamsul Kamal
SijiAceh.Com – Sabtu,4 Juli, 2026
Pelajaran dari Aceh untuk Menyelamatkan Indonesia.
“Bangsa tidak runtuh karena miskin. Bangsa runtuh ketika ia mulai melupakan siapa yang membangunnya.”
Mengapa Judul Ini?
Judul tulisan ini bukan berarti Aceh pernah atau sedang menjadi beban bagi Republik Indonesia.
Justru sebaliknya.
Judul ini adalah penolakan terhadap setiap cara pandang yang melihat Aceh hanya melalui konflik, kekhususan, atau berbagai tuntutan politiknya.
Aceh bukan beban republik.
Aceh adalah salah satu tiang sejarah yang ikut menyangga berdirinya Republik Indonesia.
Sejarah mencatat bahwa ketika Indonesia masih berjuang mempertahankan kemerdekaannya, Aceh hadir bukan dengan banyak tuntutan, melainkan dengan pengorbanan. Aceh memberikan tenaga, harta, doa, dan kepercayaan kepada sebuah cita-cita besar bernama Indonesia.
Karena itu, melihat Aceh hanya sebagai daerah yang meminta hak, tetapi melupakan apa yang pernah diberikannya kepada bangsa, adalah cara membaca sejarah yang tidak utuh.
Tulisan ini bukan untuk membuka kembali luka masa lalu.
Tulisan ini adalah ajakan agar Indonesia mengingat kembali bahwa persatuan tidak dibangun di atas kekuasaan, melainkan di atas keadilan.
Dan Aceh, dengan seluruh sejarahnya, mengajarkan pelajaran itu kepada kita semua.
Ketika Bangsa Kehilangan Ingatan
Ada satu penyakit yang lebih berbahaya daripada korupsi.
Lebih berbahaya daripada kemiskinan.
Lebih berbahaya daripada konflik.
Penyakit itu adalah hilangnya ingatan sebuah bangsa.
Bangsa yang kehilangan ingatan akan perlahan kehilangan keadilan.
Dan ketika keadilan hilang, persatuan hanya tinggal slogan.
Indonesia hari ini menghadapi ujian itu.
Bukan karena kurangnya undang-undang.
Bukan karena kurangnya sumber daya alam.
Tetapi karena kita mulai lupa bahwa republik ini tidak dibangun oleh Jakarta saja.
Republik ini dibangun oleh darah, air mata, doa, dan pengorbanan daerah-daerah yang percaya kepada sebuah cita-cita bernama Indonesia.
Aceh adalah salah satunya.
Aceh Tidak Pernah Menghitung Pengorbanannya,
Ketika republik ini lahir dalam keadaan rapuh, Aceh tidak pernah bertanya,
“Apa yang akan kami dapatkan?”
Aceh justru bertanya,
“Apa yang dapat kami berikan?”
Itulah watak bangsa yang besar.
Tetapi sejarah juga mengajarkan bahwa setiap pengorbanan membawa amanah.
Amanah agar negara yang lahir dari pengorbanan itu tidak berubah menjadi negara yang lupa.
Lupa kepada sejarah.
Lupa kepada daerah.
Lupa kepada rakyat.
Negara Tidak Dibangun untuk Mengambil.
Dalam teori politik modern, negara diberi kewenangan menguasai sumber daya alam bukan agar negara menjadi pemilik terbesar.
Negara hanyalah pemegang amanah.
Pemegang amanah untuk memastikan bahwa kekayaan yang berasal dari bumi kembali menjadi kemakmuran manusia.
Karena itu Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menggunakan kalimat yang sangat indah:
“Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.”
Bukan untuk memperbesar kekuasaan negara.
Bukan pula untuk memperkaya segelintir orang.
Melainkan untuk kemakmuran rakyat.
Kalimat ini sederhana.
Tetapi apabila direnungkan, ia sesungguhnya adalah filsafat terbesar negara Indonesia.
Aceh Sedang Bertanya kepada Republik
Pertanyaan Aceh sebenarnya sangat sederhana.
Apakah negara masih mengingat tujuan mengapa negara dibentuk?
Apakah kekayaan alam hanya dipandang sebagai angka dalam laporan keuangan?
Ataukah ia dipandang sebagai amanah yang harus mengangkat martabat manusia?
Karena sesungguhnya rakyat tidak makan angka pertumbuhan ekonomi.
Rakyat makan dari pekerjaan.
Dari pendidikan.
Dari pelayanan kesehatan.
Dari harga diri.
Dari harapan.
Yang Dicari Aceh Bukan Kekuasaan.
Kesalahan terbesar dalam membaca Aceh adalah mengira bahwa setiap tuntutan selalu berkaitan dengan politik.
Tidak.
Yang diperjuangkan jauh lebih mendasar.
Yang diperjuangkan adalah rasa memiliki terhadap republik.
Tidak ada bangsa yang dapat bertahan apabila sebagian rakyat mulai merasa bahwa mereka hanya dibutuhkan ketika negaranya membutuhkan sumber daya.
Tetapi dilupakan ketika mereka membutuhkan keadilan.
Sejarah dunia berkali-kali membuktikan bahwa konflik bukan lahir karena kemiskinan semata.
Konflik lahir ketika ketimpangan bertemu dengan rasa tidak didengar.
Indonesia Sedang Diuji oleh Aceh.
Aceh bukan ujian bagi Indonesia karena konflik masa lalunya.
Aceh adalah ujian karena pertanyaan moralnya.
Mampukah Indonesia menjadi negara yang besar bukan hanya dalam luas wilayah, tetapi juga dalam keluasan hati?
Mampukah Indonesia memperlakukan daerah sebagai mitra, bukan sekadar objek administrasi?
Mampukah Indonesia melihat kekayaan alam bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi sebagai sarana menghadirkan keadilan?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menentukan masa depan republik.
Republik Tidak Membutuhkan Daerah yang Takut.
Republik membutuhkan daerah yang percaya.
Percaya bahwa konstitusi ditegakkan.
Percaya bahwa sejarah dihormati.
Percaya bahwa pengorbanan tidak dilupakan.
Percaya bahwa kekayaan negeri ini benar-benar menjadi kesejahteraan rakyat.
Kepercayaan tidak dapat dipaksa.
Ia hanya lahir dari keadilan.
Jika Indonesia Ingin Berumur Seratus Tahun Lagi
Maka Indonesia harus berhenti bertanya,
“Berapa banyak yang dapat kita ambil dari Aceh?”
Dan mulai bertanya,
“Apakah rakyat Aceh benar-benar telah merasakan manfaat dari republik yang ikut mereka bangun?”
Karena sesungguhnya ukuran keberhasilan negara bukanlah tingginya gedung pemerintahan.
Bukan panjangnya jalan tol.
Bukan besarnya APBN.
Tetapi senyum anak-anak di desa.
Harapan para petani.
Martabat para nelayan.
Dan keyakinan setiap warga bahwa negara hadir bukan hanya untuk memerintah, tetapi juga untuk mengayomi.
Tulisan ini bukan pembelaan terhadap Aceh semata.
Tulisan ini adalah pembelaan terhadap Indonesia.
Karena Indonesia yang adil akan melahirkan Aceh yang kuat.
Dan Aceh yang kuat akan memperkuat Indonesia.
Jika suatu hari sejarah kembali bertanya kepada bangsa ini,
“Apa pelajaran terbesar yang pernah diajarkan Aceh?”
Semoga jawabannya bukan tentang konflik.
Bukan pula tentang perbedaan.
Tetapi tentang satu kata yang menjadi alasan berdirinya republik ini sejak awal,
KEADILAN.
Sebab bangsa yang kehilangan keadilan akan kehilangan masa depannya.
Dan bangsa yang menjaga keadilan akan hidup jauh melampaui usianya.
Penutup.
Saya tidak menulis tulisan ini agar Aceh lebih dicintai daripada daerah lain.
Saya juga tidak menulisnya untuk membuka kembali luka sejarah.
Saya menulisnya agar Indonesia kembali mengingat alasan mengapa republik ini didirikan.
Negara tidak didirikan untuk mengumpulkan kekayaan.
Negara tidak didirikan untuk memusatkan kekuasaan.
Negara tidak didirikan agar daerah hanya menjadi penyedia sumber daya.
Negara didirikan untuk menjaga martabat manusia.
Aceh tidak meminta belas kasihan.
Aceh tidak meminta perlakuan yang lebih tinggi daripada daerah lain.
Aceh hanya berharap agar keadilan yang dijanjikan oleh konstitusi benar-benar hadir dalam kehidupan rakyatnya.
Karena ketika Aceh berbicara tentang keadilan, sesungguhnya Aceh sedang mengingatkan Indonesia kepada cita-citanya sendiri.
Dan ketika Indonesia mampu berlaku adil kepada Aceh, sesungguhnya Indonesia sedang membuktikan bahwa republik ini masih setia kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan cita-cita para pendiri bangsa.
Aceh bukan beban republik.
Aceh adalah bagian dari jiwa republik.
Yang menjadi beban republik bukanlah Aceh.
Yang menjadi beban republik adalah ketika bangsa ini kehilangan ingatan terhadap sejarahnya, melupakan amanah konstitusinya, dan membiarkan ketidakadilan tumbuh menjadi warisan bagi generasi yang akan datang.
Karena bangsa boleh kehilangan kekayaan. Bangsa boleh kehilangan kejayaan. Tetapi bangsa yang kehilangan keadilan sedang kehilangan alasan mengapa republik ini didirikan.
Dan republik yang melupakan sejarah para pendirinya perlahan akan kehilangan masa depannya.(*)
— Syamsul Kamal (Rj)
- Penulis: Redaksi













Saat ini belum ada komentar