828533
Berita
light_mode
Trending Tags

ACEH BUKAN BEBAN REPUBLIK

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
  • visibility 256
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

OPINI

Oleh: Syamsul Kamal

SijiAceh.Com – Sabtu,4 Juli, 2026

Pelajaran dari Aceh untuk Menyelamatkan Indonesia.

“Bangsa tidak runtuh karena miskin. Bangsa runtuh ketika ia mulai melupakan siapa yang membangunnya.”

Mengapa Judul Ini?
Judul tulisan ini bukan berarti Aceh pernah atau sedang menjadi beban bagi Republik Indonesia.

Justru sebaliknya.

Judul ini adalah penolakan terhadap setiap cara pandang yang melihat Aceh hanya melalui konflik, kekhususan, atau berbagai tuntutan politiknya.

Aceh bukan beban republik.
Aceh adalah salah satu tiang sejarah yang ikut menyangga berdirinya Republik Indonesia.

Sejarah mencatat bahwa ketika Indonesia masih berjuang mempertahankan kemerdekaannya, Aceh hadir bukan dengan banyak tuntutan, melainkan dengan pengorbanan. Aceh memberikan tenaga, harta, doa, dan kepercayaan kepada sebuah cita-cita besar bernama Indonesia.

Karena itu, melihat Aceh hanya sebagai daerah yang meminta hak, tetapi melupakan apa yang pernah diberikannya kepada bangsa, adalah cara membaca sejarah yang tidak utuh.

Tulisan ini bukan untuk membuka kembali luka masa lalu.
Tulisan ini adalah ajakan agar Indonesia mengingat kembali bahwa persatuan tidak dibangun di atas kekuasaan, melainkan di atas keadilan.

Dan Aceh, dengan seluruh sejarahnya, mengajarkan pelajaran itu kepada kita semua.
Ketika Bangsa Kehilangan Ingatan
Ada satu penyakit yang lebih berbahaya daripada korupsi.

Lebih berbahaya daripada kemiskinan.
Lebih berbahaya daripada konflik.
Penyakit itu adalah hilangnya ingatan sebuah bangsa.

Bangsa yang kehilangan ingatan akan perlahan kehilangan keadilan.
Dan ketika keadilan hilang, persatuan hanya tinggal slogan.

Indonesia hari ini menghadapi ujian itu.
Bukan karena kurangnya undang-undang.
Bukan karena kurangnya sumber daya alam.
Tetapi karena kita mulai lupa bahwa republik ini tidak dibangun oleh Jakarta saja.

Republik ini dibangun oleh darah, air mata, doa, dan pengorbanan daerah-daerah yang percaya kepada sebuah cita-cita bernama Indonesia.

Aceh adalah salah satunya.
Aceh Tidak Pernah Menghitung Pengorbanannya,
Ketika republik ini lahir dalam keadaan rapuh, Aceh tidak pernah bertanya,
“Apa yang akan kami dapatkan?”

Aceh justru bertanya,
“Apa yang dapat kami berikan?”
Itulah watak bangsa yang besar.
Tetapi sejarah juga mengajarkan bahwa setiap pengorbanan membawa amanah.

Amanah agar negara yang lahir dari pengorbanan itu tidak berubah menjadi negara yang lupa.
Lupa kepada sejarah.
Lupa kepada daerah.
Lupa kepada rakyat.

Negara Tidak Dibangun untuk Mengambil.

Dalam teori politik modern, negara diberi kewenangan menguasai sumber daya alam bukan agar negara menjadi pemilik terbesar.

Negara hanyalah pemegang amanah.

Pemegang amanah untuk memastikan bahwa kekayaan yang berasal dari bumi kembali menjadi kemakmuran manusia.
Karena itu Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menggunakan kalimat yang sangat indah:

“Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.”

Bukan untuk memperbesar kekuasaan negara.
Bukan pula untuk memperkaya segelintir orang.
Melainkan untuk kemakmuran rakyat.

Kalimat ini sederhana.
Tetapi apabila direnungkan, ia sesungguhnya adalah filsafat terbesar negara Indonesia.
Aceh Sedang Bertanya kepada Republik
Pertanyaan Aceh sebenarnya sangat sederhana.

Apakah negara masih mengingat tujuan mengapa negara dibentuk?
Apakah kekayaan alam hanya dipandang sebagai angka dalam laporan keuangan?
Ataukah ia dipandang sebagai amanah yang harus mengangkat martabat manusia?

Karena sesungguhnya rakyat tidak makan angka pertumbuhan ekonomi.
Rakyat makan dari pekerjaan.
Dari pendidikan.
Dari pelayanan kesehatan.
Dari harga diri.
Dari harapan.

Yang Dicari Aceh Bukan Kekuasaan.

Kesalahan terbesar dalam membaca Aceh adalah mengira bahwa setiap tuntutan selalu berkaitan dengan politik.
Tidak.
Yang diperjuangkan jauh lebih mendasar.
Yang diperjuangkan adalah rasa memiliki terhadap republik.

Tidak ada bangsa yang dapat bertahan apabila sebagian rakyat mulai merasa bahwa mereka hanya dibutuhkan ketika negaranya membutuhkan sumber daya.
Tetapi dilupakan ketika mereka membutuhkan keadilan.

Sejarah dunia berkali-kali membuktikan bahwa konflik bukan lahir karena kemiskinan semata.
Konflik lahir ketika ketimpangan bertemu dengan rasa tidak didengar.

Indonesia Sedang Diuji oleh Aceh.

Aceh bukan ujian bagi Indonesia karena konflik masa lalunya.
Aceh adalah ujian karena pertanyaan moralnya.
Mampukah Indonesia menjadi negara yang besar bukan hanya dalam luas wilayah, tetapi juga dalam keluasan hati?
Mampukah Indonesia memperlakukan daerah sebagai mitra, bukan sekadar objek administrasi?

Mampukah Indonesia melihat kekayaan alam bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi sebagai sarana menghadirkan keadilan?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menentukan masa depan republik.

Republik Tidak Membutuhkan Daerah yang Takut.

Republik membutuhkan daerah yang percaya.
Percaya bahwa konstitusi ditegakkan.
Percaya bahwa sejarah dihormati.
Percaya bahwa pengorbanan tidak dilupakan.

Percaya bahwa kekayaan negeri ini benar-benar menjadi kesejahteraan rakyat.
Kepercayaan tidak dapat dipaksa.
Ia hanya lahir dari keadilan.
Jika Indonesia Ingin Berumur Seratus Tahun Lagi
Maka Indonesia harus berhenti bertanya,
“Berapa banyak yang dapat kita ambil dari Aceh?”

Dan mulai bertanya,
“Apakah rakyat Aceh benar-benar telah merasakan manfaat dari republik yang ikut mereka bangun?”
Karena sesungguhnya ukuran keberhasilan negara bukanlah tingginya gedung pemerintahan.

Bukan panjangnya jalan tol.
Bukan besarnya APBN.
Tetapi senyum anak-anak di desa.
Harapan para petani.
Martabat para nelayan.
Dan keyakinan setiap warga bahwa negara hadir bukan hanya untuk memerintah, tetapi juga untuk mengayomi.

Tulisan ini bukan pembelaan terhadap Aceh semata.
Tulisan ini adalah pembelaan terhadap Indonesia.

Karena Indonesia yang adil akan melahirkan Aceh yang kuat.
Dan Aceh yang kuat akan memperkuat Indonesia.

Jika suatu hari sejarah kembali bertanya kepada bangsa ini,
“Apa pelajaran terbesar yang pernah diajarkan Aceh?”
Semoga jawabannya bukan tentang konflik.
Bukan pula tentang perbedaan.
Tetapi tentang satu kata yang menjadi alasan berdirinya republik ini sejak awal,

KEADILAN.

Sebab bangsa yang kehilangan keadilan akan kehilangan masa depannya.
Dan bangsa yang menjaga keadilan akan hidup jauh melampaui usianya.

Penutup.
Saya tidak menulis tulisan ini agar Aceh lebih dicintai daripada daerah lain.
Saya juga tidak menulisnya untuk membuka kembali luka sejarah.
Saya menulisnya agar Indonesia kembali mengingat alasan mengapa republik ini didirikan.

Negara tidak didirikan untuk mengumpulkan kekayaan.
Negara tidak didirikan untuk memusatkan kekuasaan.
Negara tidak didirikan agar daerah hanya menjadi penyedia sumber daya.
Negara didirikan untuk menjaga martabat manusia.

Aceh tidak meminta belas kasihan.
Aceh tidak meminta perlakuan yang lebih tinggi daripada daerah lain.
Aceh hanya berharap agar keadilan yang dijanjikan oleh konstitusi benar-benar hadir dalam kehidupan rakyatnya.

Karena ketika Aceh berbicara tentang keadilan, sesungguhnya Aceh sedang mengingatkan Indonesia kepada cita-citanya sendiri.

Dan ketika Indonesia mampu berlaku adil kepada Aceh, sesungguhnya Indonesia sedang membuktikan bahwa republik ini masih setia kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan cita-cita para pendiri bangsa.

Aceh bukan beban republik.

Aceh adalah bagian dari jiwa republik.
Yang menjadi beban republik bukanlah Aceh.

Yang menjadi beban republik adalah ketika bangsa ini kehilangan ingatan terhadap sejarahnya, melupakan amanah konstitusinya, dan membiarkan ketidakadilan tumbuh menjadi warisan bagi generasi yang akan datang.

Karena bangsa boleh kehilangan kekayaan. Bangsa boleh kehilangan kejayaan. Tetapi bangsa yang kehilangan keadilan sedang kehilangan alasan mengapa republik ini didirikan.

Dan republik yang melupakan sejarah para pendirinya perlahan akan kehilangan masa depannya.(*)
— Syamsul Kamal (Rj)

Tags
  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Diduga Tak Sesuai Kupon, Penyaluran Bantuan Pangan di Aceh Disorot

    Diduga Tak Sesuai Kupon, Penyaluran Bantuan Pangan di Aceh Disorot

    • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
    • account_circle Team barat selatan
    • visibility 31
    • 0Komentar

    _Warga Minta Bupati Nagan Raya, Gubernur Aceh, dan Kementerian Tindak Tegas Oknum yang Alihkan Bantuan_   NAGAN RAYA, 4 September 2026_ – Penyaluran bantuan pangan di sejumlah wilayah Aceh diduga tidak sesuai dengan ketentuan yang tertera di kupon. Ketidaksesuaian itu terjadi pada dua periode, _Februari–Maret 2026_ dan _Juli–September 2026_, dan memicu keluhan dari para penerima […]

  • Bupati Aceh Timur Copot Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)

    Bupati Aceh Timur Copot Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Bupati Aceh Timur Copot Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) SIJI ACEH.Com | ACEH TIMUR – Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky mencopot Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat Afifullah karena kinerja penanganan banjir dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan lapangan terutama dalam hal pendataan dan respons cepat. “Hari ini saya […]

  • Maraknya Oknum Wartawan, Media dan Organisasi Diduga Ilegal di Kota Langsa

    Maraknya Oknum Wartawan, Media dan Organisasi Diduga Ilegal di Kota Langsa

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 254
    • 0Komentar

    Kota Langsa | SijiAceh.Com — Ketua Dewan Pengurus Wilayah Suara Independen Jurnalis Indonesia (DPW SIJI) Aceh, Muhammad Ali C, JB, melakukan kunjungan silaturahmi ke Polres Langsa, Rabu (21/1/2026). Kedatangan Ketua DPW Suara Independen Jurnalis Indonesia Aceh yang akrab disapa Tn Ali tersebut bersama sejumlah pengurus disambut langsung oleh Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Langsa, AKP Fachmi […]

  • Konsumen Pengguna Wife Pertanyakan Kenapa Grafari Kota Langsa Sekarang ini Terkesan lambat Tangani Keluhan Pelanggan

    Konsumen Pengguna Wife Pertanyakan Kenapa Grafari Kota Langsa Sekarang ini Terkesan lambat Tangani Keluhan Pelanggan

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Konsumen Pengguna Wife Pertanyakan Kenapa Grafari Kota Langsa Sekarang ini Terkesan lambat Tangani Keluhan Pelanggan SIJI ACEH.Com | KOTA LANGSA – Konsumen Pengguna Wife Pertanyakan kinerja Grafari Kota Langsa, tentang lambanya tangani keluhan pelanggan, Zulfadli, disalah satu Cafe, Selasa (20/01/2026). Menurut keterangan Zulfadli,S.sos.l.MM selaku Pelanggan Wifi Indihome beliau mengatakan kepada awak media, Gafari sekarang ini […]

  • Latihan Olah Strategi dan Tactical Floor Game Tingkatkan kesiapan Polda Aceh hadapi May Day 2026

    Latihan Olah Strategi dan Tactical Floor Game Tingkatkan kesiapan Polda Aceh hadapi May Day 2026

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Team barat selatan
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Rabu, 29 April 2026 (SIJI NAGAN RAYA), Banda Aceh — Dalam rangka meningkatkan kesiapan pengamanan dan pelayanan kepada masyarakat pada peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) Tahun 2026, Polda Aceh melaksanakan kegiatan Latihan Olah Strategi/Gladi Posko Kamtibmas dan Tactical Floor Game (TFG) Rencana Kontinjensi Aman Nusa I Tahun 2026, Selasa ( 28/4/2026). Kegiatan tersebut dilaksanakan pada […]

  • Wali Kota Langsa Berbaur Dengan Masyarakat Padati Kawasan Car Free Day

    Wali Kota Langsa Berbaur Dengan Masyarakat Padati Kawasan Car Free Day

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Ali Langsa
    • visibility 129
    • 0Komentar

    SijiAceh.Com | Kota Langsa – Suasana hangat penuh kebersamaan menyelimuti Lapangan Merdeka Kota Langsa pada Minggu (17/5/2026) pagi. Ribuan warga dari berbagai kalangan memadati kawasan Car Free Day (CFD), menikmati waktu bersama keluarga sambil berolahraga dan bersilaturahmi di ruang terbuka yang kini kembali hidup. Tawa anak-anak, langkah santai masyarakat, hingga irama senam sehat berpadu menjadi […]

expand_less LAGI