MIRIS !!! Di Tengah Janji Kesejahteraan, Warga Disabilitas Lhoksukon Masih Berjuang Hidup di Rumah Tak Layak Huni
- account_circle Team barat selatan
- calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
- visibility 37
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Di Tengah Janji Kesejahteraan, Nasib Warga Disabilitas Aceh Utara Ini Butuh Perhatian Nyata Pemerintah”
Kamis, 15 Oktober 2026
www.siji.or.id.
ACEH UTARA– Di tengah berbagai program kesejahteraan sosial yang terus digaungkan, kisah hidup Mahmud, seorang penyandang disabilitas asal Gampong Nga Matang Ubi, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, menjadi pengingat bahwa masih ada warga yang membutuhkan perhatian serius untuk memperoleh kehidupan yang layak.

Mahmud bukan sekadar membutuhkan bantuan.
Ia mendambakan tempat tinggal yang layak dan kendaraan khusus penyandang disabilitas agar dapat menjalani aktivitas sehari-hari serta mencari nafkah tanpa harus terus-menerus menghadapi hambatan fisik yang berat.

Kondisi tersebut menjadi perhatian yang patut ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Pemerintah Aceh, Dinas Sosial, serta para wakil rakyat di DPRK, DPRA, DPD RI, dan DPR RI sesuai kewenangan masing-masing.

Hidup dengan Keterbatasan Sejak Lahir
Mahmud mengungkapkan kepada awak media pada Kamis (15/10/2026) bahwa dirinya mengalami disabilitas fisik sejak lahir.
Salah satu Tangan nya tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya sehingga aktivitas sehari-hari menjadi tantangan tersendiri.
Keterbatasan fisik itu tidak lantas membuatnya menyerah.
Di tengah kondisi yang serba terbatas, Mahmud tetap berusaha mencari nafkah dengan kemampuan yang dimilikinya.
Namun, perjuangan tersebut semakin berat karena ia harus menjalani berbagai aktivitas dengan berjalan kaki.
Ketiadaan kendaraan yang sesuai dengan kebutuhannya menjadi salah satu kendala dalam menunjang mobilitas dan pekerjaannya.
Ditinggal Orang Tua Sejak Konflik Aceh, Kini Tinggal Bersama Nenek
Kisah hidup Mahmud semakin menyentuh ketika ia menceritakan bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia saat konflik Aceh pada masa silam.
Saat ini, ia tinggal bersama neneknya yang menjalani kehidupan sederhana.
Dalam kesehariannya, Mahmud bekerja serabutan demi memenuhi kebutuhan hidup.
Ia membantu pekerjaan di sawah dan mengambil buah kelapa tua di sekitar desa tempat tinggalnya.
Sementara itu, sang nenek menjalankan aktivitas rumah tangga dan terkadang turut membantu mencari rezeki.
Di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi fisik yang dialaminya, keduanya terus berupaya bertahan hidup dengan mengandalkan pekerjaan yang tersedia.
Rumah Layak Huni dan Kendaraan Disabilitas Menjadi Harapan
Mahmud berharap pemerintah dan para dermawan tidak menutup mata terhadap kondisi yang dialaminya.
Ia membutuhkan rumah yang layak huni serta kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas untuk menunjang mobilitas dan aktivitas mencari nafkah.
“Bukannya saya meminta belas kasihan kepada pemerintah dan orang lain.
Saya hanya menginginkan kehidupan yang layak, tinggal di rumah yang layak huni, dan memiliki kendaraan bermotor untuk penyandang disabilitas, meskipun saya memiliki banyak keterbatasan,” ungkap Mahmud.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran bahwa kebutuhan Mahmud bukan hanya bantuan sesaat, melainkan dukungan nyata agar ia dapat menjalani kehidupan secara lebih aman, mandiri, dan bermartabat.
Pemerintah Jangan Hanya Hadir dalam Program, Warga Rentan Menunggu Tindakan Nyata
Kondisi Mahmud semestinya menjadi perhatian serius bagi instansi terkait.
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara melalui Dinas Sosial dan perangkat terkait diharapkan dapat melakukan peninjauan langsung, memverifikasi kondisi tempat tinggal serta kebutuhan mobilitasnya, dan menilai bentuk bantuan yang sesuai dengan ketentuan program yang tersedia.
Bupati Aceh Utara, Gubernur Aceh, serta para wakil rakyat di berbagai tingkatan juga diharapkan dapat mendorong koordinasi lintas instansi agar warga penyandang disabilitas dari keluarga kurang mampu tidak terabaikan.
Persoalan ini bukan semata-mata tentang pemberian bantuan, melainkan juga mengenai akses terhadap tempat tinggal yang layak, mobilitas, kesempatan mencari nafkah, dan perlindungan sosial.
Jangan sampai warga yang telah berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup justru harus terus menghadapi keterbatasan tanpa memperoleh informasi yang jelas mengenai akses bantuan yang dapat mereka ajukan,red.
Saatnya Kepedulian Dibuktikan dengan Langkah Konkret
Mahmud berharap uluran tangan pemerintah, lembaga sosial, pihak swasta, dan para dermawan di Aceh Utara dapat membantu meringankan beban kehidupannya.
Bantuan berupa perbaikan atau pembangunan rumah layak huni, kendaraan khusus disabilitas, maupun dukungan pemberdayaan ekonomi dapat menjadi langkah berarti apabila diberikan berdasarkan hasil verifikasi kebutuhan dan mekanisme yang berlaku.
Hingga berita ini diterbitkan belum ada tindaklanjut dari pemerintah untuk sdr Mahmud.
Kini, perhatian publik tertuju pada harapan agar kondisi Mahmud mendapat penanganan yang nyata. Sebab, kesejahteraan tidak cukup hanya menjadi slogan.
Bagi warga yang hidup dalam keterbatasan, kepedulian baru benar-benar terasa ketika hadir dalam bentuk tindakan,Red.(***)
- Penulis: Team barat selatan













